Kisah Perantauan (bagian-3 : Singapura)

Kisah Perantauan (bagian-3 : Singapura)

bulan desember 2012 di kampung halamannya itu, membuat hatinya terketuk untuk memutar kemudi pekerjaannya dan kembali ke dunia arsitektur. sebuah cerita drama dari thailand berjudul “Dear Gallileo”, sebuah drama serial korea berjudul “Winter Sonata” beberapa film dan iklan dari National Geographic, yang entah bagaimana berkali-kali seolah-olah mengajaknya kembali ke dunia arsitektur yang telah lebih dari tiga tahun ia tinggalkan. belum lagi beberapa orang yang tidak terlalu akrab, yang mendadak mendatanginya untuk menawari pekerjaan menjadi seorang arsitek. hal inilah yang membuatnya mengambil keputusan bulan untuk tidak lagi menjalani karir di dunia perbankan.

wanita muda ini menghabiskan masa liburan bulan desembernya untuk belajar kembali arsitektur; menuntaskan bacaan buku FDK Ching, membuka dan mengingat kembali kertas-kertas gambar A1 dari masa kuliahnya dulu, kembali melatih sketsa gambarnya, hingga memperbaiki CV dan di akhir bulan desember mulai mengirimkan lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan arsitektur.

sebagai seseorang yang selalu haus akan tantangan dan pengalaman baru, ia pun memutuskan untuk mencari pekerjaan arsitektur bukan di jakarta, karena ibu kota sudah cukup membuat dirinya stress, bukan juga di bandung, karena ia telah puas menjelajahi kota wisata tersebut selama lebih dari empat tahun, terlebih lagi bukan di tegal, kota kelahirannya yang masih menurutnya kota tersebut terlalu kecil bagi orang dengan ambisi sedemikian besar. ia pun melayangkan surat lamaran pekerjaannya ke negeri singa.

sekalipun kakak lelakinya menyangsikan kemungkinan ia diterima bekerja di negeri singa, namun tidak ada sedikitpun ragu baginya. dan hal tersebut tidak membuatnya berubah pikiran. mungkin lebih dari dua puluh lamaran ia layangkan melalui internet, tiap harinya. jumlah yang banyak sekali, tentunya. tapi baginya, semakin banyak surat yang ia layangkan, maka semakin besar pula lah kemungkinan yang dapat ia peroleh.

dari ratusan surat lamaran yang ia layangkan sejak akhir bulan desember 2012, total hanyalah 5 surat elektronik balasan yang ia terima. surat pertama yang ia terima, mengharuskannya berangkat ke negeri singa satu hari setelah surat tersebut ia terima, yang mana sangatlah mendadak dan mustahil baginya. empat surat lainnya adalah surat panggilan wawancara kerja yang tidak berujung kejelasan tempat dan waktunya.

namun di suatu siang dua puluh satu januari 2013, ketika ia telah kembali ke pekerjaannya di bidang sumber daya manusia, ia menerima panggilan telepon dari nomor asing berkodekan enam puluh lima. telepon itu menjanjikan padanya akan suatu wawancara kerja melalui telepon untuk pagi hari kamis, 24 januari 2013 pukul 10:00. dengan yakin dan segera ia pun mengiyakan janji wawancara telepon tersebut.

hari kamis pagi itu, pukul 8:00 ia telah bangun dan menyiapkan diri. tidak lupa segalanya ia awali dengan berdoa, agar disertai dengan berkat dan kemudahan, jikalau memang inilah jalan yang dibukakan baginya. sebelum pukul sepuluh, ia telah duduk di depan telepon genggamnya, teramat sangat siap menerima panggilan telepon untuk wawancara pertamanya tersebut. di luar dugaannya, wawancara melalui telepon itu membuahkan hasil. ia pun diminta untuk mengikuti wawancara kedua, yakni tatap muka di negri singa. tanpa pikir panjang, ia meyakinkan si penelepon bahwa minggu depan ia akan terbang ke singapura.

amarah dan keraguan muncul di benak orang tua dan kakaknya. bagi mereka, ia telah sangat gegabah dengan membuat keputusan sedemikian besar seorang diri, yang mana seharusnya dipertimbangkan masak-masak terlebih dahulu. namun keyakinan telah bulat di tangannya. ia sangat ingin mengambil kesempatan ini, sebelum orang lain mendapatkannya. dan bagi seorang berkepribadian tegas dan berani sedari dulu, maka tidak ada suatupun yang mampu menghalangi keputusannya.

maka berangkatlah ia ke negeri singa, ditemani oleh sang ibunda. subuh sebelum pukul tiga sebelum matahari terbit, mereka berangkat menuju bandara. jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi hari, ketika akhirnya mereka tiba di negri singa. sebuah daratan baru yang belum pernah mereka pijak sebelumnya.

setibanya mereka di bandara changi, mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor tempat ia akan menghadapi wawancara, dengan berkendara kereta dan disambung dengan taksi lokal. wawancara kerja dimulai pukul 1:30 siang, dan berlangsung sekitar dua jam lamanya. sang ibunda dengan setia menunggu di lantai bawah. sementara wawancara berlangsung dengan cukup lancar, terbesit sebuah pemikiran di benaknya, bahwa betapa inginnya ia tinggal lebih lama di kantor ini, bahwa betapa inginnya ia tidak meninggalkan negeri singa.

sore hari itu di tempat penginapan bersama dengan sang ibunda, mereka mengalami serangan kelelahan yang luar biasa, akibat perjalanan panjang dan insomnia sejak sehari yang lalu. perasaan galau pun mulai menyelimutinya di kala senja itu. bagaimana kalau ia tidak mendapatkan pekerjaan tersebut? bagaimana kalau ternyata wawancaranya tidak semulus yang ia kira? bagaimana kalau ia masih harus kembali ke pekerjaannya di bidang sumber daya manusia? bagaimana kalau mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus kembali ke jakarta dan mengulangi stress yang dialaminya? bagaimana kalau semua ini hanyalah uang dan waktu dan tenaga terbuang secara percuma?

begitu banyak kengerian yang ia bayangkan. namun sore itu, sebelum pukul enam waktu indonesia bagian barat, telepon genggamnya berdering, panggilan dari nomor asing berawalkan enam puluh lima. sebuah panggilan yang membuatnya melonjak kegirangan : bahwa ia diminta untuk kembali ke kantor tersebut keesokan harinya, untuk menandatangani kontrak kerja. sontak ia berteriak kegirangan setelah telepon ditutupnya. tangis bahagia pun meledak saat ia berpelukan dengan sang ibunda yang selama ini telah menyertainya bukan hanya secara fisik, pun juga dengan doa-doanya.

maka dimulailah kisah perantauan nya di negeri singa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s